Kaleidoskop: Rekap Baca Buku

Diawal tahun 2013 sempat berkeinginan membaca 52 buku dalam setahun atau 1 buku dalam 1 minggu. Keinginan ini muncul untuk menjaga produktivitas membaca ditengah padatnya waktu kerja. Dengan waktu PP rumah-kantor menghabiskan waktu 4-5 jam, dari rumah berangkat habis subuh, dan sampai rumah rata-rata jam 11 malam. Waktu menjadi tantangannya. Hampir setahun berlalu, berapa buku yang sudah selesai saya baca?

Dalam mencapai 52 buku, dari awal memang tidak ada batasan ukuran buku, tebal buku maupun jenis buku. Apapun itu, selesai membaca terhitung 1 buku. Alhasil, 12 jenis buku yang berhasil saya baca dalam setahun ini. Klasifikasi jenis buku ini berdasarkan versi saya, jadi sangat mungkin ada buku yang dapat dikategorikan dalam jenis buku Islam, misalnya, tetapi saya masukan dalam jenis buku pengembangan diri. Ya, sangat subjektif. 12 jenis buku tersebut diantaranya: Bisnis (1 buku), Kesehatan (1), Lingkungan (1), Softskill (1), Financial (2), Pendidikan (3), Pernikahan (3), Wawasan (3), Pengembangan Diri (5), Islam (8), Novel (8), dan Komik (20+).  Bila dihitung jumlah buku yang dibaca sepanjang tahun ini mencapai 57+ buku. Berikut grafik jenis buku yang dibaca tahun 2013 (- komik).

Rekap Baca Buku

Alhamdulillah, mencapai target 52 buku selesai terbaca di tahun 2013. Namun, secara kualitas Komik masih terlalu dominan (20+ buku). Saya rasa ini PR untuk tahun 2014. Mulai untuk memikirkan kualitas bacaan dalam pencapaian target baca buku ini. Jujur saja, sebenarnya cukup malu dengan target 52 buku dalam setahun ini. Malu kepada para tokoh bangsa terdahulu yang untuk pencapaian segini mungkin sudah dilaluinya saat dalam masa sekolah mereka. Semoga ini awalan untuk bisa jauh lebih banyak, jauh lebih bermutu buku-buku yang dibaca.

Oia, berikut buku-buku yang selesai saya baca selama tahun 2013:

  1.  10 Orang yang Dijamin Masuk Surga [islam]
  2. Your Job Is Not Your Career [pengembangan diri]
  3. Best Practices Mencapai MDG’s [wawasan]
  4. Super Health [kesehatan]
  5. Negeri di Ujung Tanduk [novel]
  6. Habibie dan Ainun [novel]
  7. Ranah 3 Warna [novel]
  8. Aku, Kau dan KUA [pernikahan]
  9. No Excuse! [pengembangan diri]
  10. Sekolahnya Manusia [pendidikan]
  11. Mengapa Bos Benci Chart Anda [softskill]
  12. Tak Kenal Maka Ta’aruf [pernikahan]
  13. Wajah Politik Muawiyah bin Abu Sofyan [islam]
  14. Kisah Cinta Aktivis Dakwah [islam]
  15. Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin [novel]
  16. Ayat-ayat Cinta [novel]
  17. Agar Orang Sibuk Bisa Menghafal Al-Qur’an [islam]
  18. Pengembangan Air Minum dan Sanitasi untuk Peradaban Bangsa [wawasan]
  19. Indahnya Menikah Full Barokah [pernikahan]
  20. Indonesia Mengajar [pendidikan]
  21. Orangtuanya Manusia [pendidikan]
  22. Creative Notes [pengembangan diri]
  23. Rantau 1 Muara [novel]
  24. Generasi 90an [wawasan]
  25. Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi [lingkungan]
  26. Agar Anak Anda Jadi Penghafal Al-Qur’an [islam]
  27. Life Story Not Job Title [pengembangan diri]
  28. Sang Pemusar Gelombang [novel]
  29. Make It Happen [financial]
  30. Sakinah Finance [financial]
  31. Ayah.. (Kisah Buya Hamka) [novel]
  32. Komitmen Muslim Sejati [islam]
  33. 30 Hari Mencari Jati Diri [pengembangan diri]
  34. Local Champion [bisnis]
  35. Jalan Cinta Para Pejuang [islam]
  36. Mencari Pahlawan Indonesia [islam]
  37. Detektif Conan (vol. 70-75) [komik]
  38. Kuroko no Basket (vol. 1-20) [komik]

Kaleidoskop: Hobi Baru

Mengenang yang dilakukan selama tahun 2013, mengingatkan aktifitas baru ku yang cukup sering dilakukan. Mungkin bisa dibilang juga hobi baru yang pada dasarnya masih berhubungan dengan hobi ku selama ini: membaca.

Biasanya orang jika di toko buku akan mengitari rak demi rak untuk mencari buku yang bagus atau diinginkan. Ia menarik buku dari rak, mengamati sekilas fisik buku, jika terasa mantap di hati, ia meuju kasir untuk membelinya. Dulu saya pun melakukan hal serupa.

Atau ada lagi orang yang lebih senang mencari buku dengan berselancar di dunia maya. Setelah mendapatkan yang diinginkan, membelinya pun menggunakan jasa penjualan buku online. Lebih praktis, dan lebih murah pada umumnya (karena tidak terkena biaya etalase..hehe). Bagi saya, mencari buku di dunia maya itu cenderung lebih rumit, mungkin karena tidak biasa, alhasil saya hanya menggunakan jasa penjualan buku online jika telah menemukan dengan jelas buku apa yang ingin saya beli. Nah, bagaimana saya menemukan buku yang ingin dibeli, inilah hobi barunya.

Mendatangi toko buku untuk mencari kemudian membaca atau membeli buku itu kebiasan saya dahulu. Kini saya hanya memodifikasinya saja. Mencari buku di toko buku, bila ingin memilikinya maka membelinya di jasa penjualan buku online. Karena sering keinginan tidak sesuai dengan keadaan (kondisi keuangan maksudnya..hehe) maka agar tidak lupa buku-buku apa saja yang menarik hati, diabadikanlah dalam bentuk foto.

Foto BukuMaka, hampir setiap kali ke toko buku, yang saya lakukan hanya berkeliling dari rak ke rak lalu memfoto buku-buku yang menurut saya menarik. Intinya foto dulu beli belakangan..hehe. Cukup hati-hati juga dalam mefoto buku ini. Takut dicurigai yang aneh-aneh, modus membaca SMS menjadi cara jitu untuk dapat menjepret buku-buku itu.

Jika situasi dan kondisi membaik (tentang duit nih..hehe) maka baru membeli di jasa penjualan buku online. Untuk meningkatkan penghematan, buku yang dibeli dikirim ke kantor (karena Jakarta bebas ongkir..hehe) dan untuk menghindari di PHP, digunakan sistem COD. Sehingga bila tidak dikirim tidak mengapa, bila dikirim baru dibayar..hehe

So, let’s capture first, buy its later…

Perubahan…

Ingatkah kita tentang cerita Seorang Kakek dan Impiannya?

Kakek yang mengatakan bahwa saat masa mudanya ia bercita-cita mengubah dunia, yang kemudian dengan segala daya upayanya ia merasa dunia tidak berubah lebih baik bahkan malah menjadi lebih buruk. Ia tersadar, mungkin terlalu tinggi impiannya, lalu diubahnyalah impiannya itu menjadi mengubah Indonesia, Negerinya. Ia merasa sanggup jika hanya mengubah satu Negara saja. Jauh lebih kecil dibanding mengubah dunia seisinya. Optimislah ia. Dan dengan segala daya upayanya ia kembali merasa tidak terjadi perubahan kearah yang lebih baik di negaranya itu. Apakah impian untuk mengubah Negara yang dicintainya ini masih terlalu tinggi? Ia mencoba merenungi apa yang salah dari yang ia lakukan sejak muda. Ia merasa impiannya mulia, bukan impian yang hanya untuk dirinya. Lalu mengapa hingga usia dirinya yang sudah tidak muda lagi ini impiannya belum terwujud. Di ujung perenungannya, ia bertekad, setidak-tidaknya ia ingin mengubah kota tempat tinggalnya menjadi jauh lebih baik. Namun apa daya, geraknya tidak segesit dulu, staminanya tidak semembara dulu, pikirannya tidak setajam dulu. Mengubah kotanya pun kini hanya tinggal angan-angan.

Sobat, sadarkah kita bahwa sudah begitu banyak orang yang menjadi seperti Kakek dalam cerita diatas? Ia larut dalam impiannya dan berujung pada putus asa. Apa yang salah? Tidak, bukanlah impiannya yang terlalu tinggi. Itu bukan suatu kesalahan. Yang salah adalah prioritas aksi yang dilakukan untuk mencapai impian tersebut.  Ya, tahapan-tahapan jalan untuk meraih suat impian. Fathi Yakan dalam buku Komitmen Muslim Sejati telah menerangkan dengan ringkas lagi padat bagaimana kita sebagai muslim bersikap. Hingga dalam bukunya tersebut, Fathi Yakan menjelaskannya dalam dua bingkai besar: Apa artinya saya mengaku muslim? Dan Apa artinya saya berafiliasi kepada pergerakan Islam?

Sobat, tidaklah mungkin lahir orang-orang besar dari mereka yang belum selesai dengan urusannya sendiri. Bagaimana mungkin mengurusi orang lain jika mengurus dirinya sendiri saja belum sanggup. Dan memulai dari mengurus akidah kita adalah langkah yang tepat. Mengapa akidah? Karena akidah inilah yang menjadi dasar atau pondasi dari setiap aksi kita dalam hidup. Mengurus akidah sama saja dengan mengislamkan akidah yang menurut Fathi Yakan memiliki konsekuensi sebagai berikut:

  1. Saya harus meyakini bahwa pencipta alam ini adalah Allah swt.
  2. Saya harus mengimani bahwa Allah swt tidak menciptakan alam semesta ini secara sia-sia. Karena kesia-siaan tidak selaras dengan sifat Allah swt Yang Maha Sempurna.
  3. Saya harus meyakini bahwa Allah swt telah mengutus rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk mengenalkan manusia kepada pengetahuan tentang Dia. Rasul terakhir adalah Muhammad saw dengan kitab Al Qur’an.
  4. Saya harus meyakini bahwa tujuan keberadaan manusia ini adalah mengenal Allah swt, menaati-Nya dan beribadah kepada-Nya.
  5. Saya harus meyakini bahwa balasan bagi orang mukmin yang taat adalah surga, sedangkan balasan bagi orang kafir yang bermaksiat adalah neraka.
  6. Saya harus meyakini bahwa segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan.

Jika akidah kita sudah diislamkan, maka jangan ragu untuk mengislamkan yang lainnya. Ibadah kita, akhlak kita, keluarga dan rumah tangga kita. Bila sudah masuk pada fase mengislamkan keluarga dan rumah tangga, bearti kita sudah mulai beranjak pada kelompok sosial terkecil dimasyarakat dan mulai siap untuk melakukan perubahan di level kelompok sosial yang lebih tinggi. That’s sounds great! Eiits, tapi sabar dulu, ada satu bekal lagi yang perlu kita punyai yakni mampu mengalahkan hawa nafsu. Kenapa hawa nafsu? Karena hawa nafsu ini selalu menempel dengan manusia. Tidak mungkin tidak. Hanya tinggal bagaimana setiap insan ini mengatur, mengalahkan atau menundukkan hawa nafsunya. Karena bukanlah hawa nafsu sebagai raja melainkan iman dalam hati yang menjadi pemimpin dalam raga ini.

Sob, ada yang perlu kita tau dan disadari bersama bahwa tidak ada masa depan selain untuk Islam. Ya benar, untuk Islam. Bukan agama lain atau bahkan Negara lain. Segala sistem buatan manusia didunia ini alih-alih ia menjauhkan manusia dari sistem Islam, ia akan menjadi pintu sistem Islam itu dikenal oleh masyarakat luas. Seberapa besar daya upaya menjauhkan manusia dari sistem Islam, sebesar itu pula sistem Islam semakin dekat dan dikenal oleh masyarakat luas. Ya, karena agama ini fitrah. Yakini dan imanilah ini.

Mari kita beranjak untuk melakukan perubahan dengan skala yang lebih luas, setelah kita melakukan perubahan pada diri, keluarga dan rumah tangga sendiri. Masih ingat cerita tentang Kakek diatas? Jangan sampai ya kita jadi seperti itu. Nah, kalau dalam perubahan diri, keluarga, dan rumah tangga kita jadi aktor utama dalam perubahan, maka tidak berlaku dalam perubahan masyarakat atau perubahan dengan skala besar lainnya. Perubahan masyarakat tidak membutuhkan Super Hero, mereka butuh Super Team. Jika kalian masih bergerak sendiri dalam melakukan perubahan masyarakat, segeralah beranjak untuk membentuk tim dalam aksi perubahan kalian.

Dalam konteks yang lebih luas, setelah kita yakin bahwa masa depan untuk Islam, mari berjuang dan melakukan perubahan dengan nafas Islam. Belajar, berbaur, dan berjuang bersama dengan aktifis islam / aktifis perubahan lainnya dalam suatu naungan pergerakan Islam. Inilah pesan yang disampaikan Fathi Yakan dalam buku Komitmen Muslim Sejati. Setelah membahas ‘Apa artinya saya mengaku Muslim?’, Fathi Yakan membahas tentang pergerakan Islam: Apa artinya Saya berafiliasi kepada Pergerakan Islam? Berafiliasi dalam pergerakan Islam bukanlah suatu pilihan, melainkan kewajiban. Dalam buku Komitmen Muslim Sejati, Fathi Yakan menjelaskan:

“… pengakuan sebagai muslim merupakan dasar, sedangkan pengakuan sebagai aktifis pergerakan adalah bagian yang tak terpisahkan dari ketulusan dalam pengakuan seseorang sebagai penganut agama ini.”

Dalam penjelasannya, Fathi Yakan menyandingkan pengakuan sebagai aktifis pergerakan dengan ketulusan seseorang dalam berislam. Penjelasan ini memberikan arti juga bahwa belumlah total seseorang berislam jika tidak berafiliasi terhadap pergerakan Islam. Subhanallah. Maka, lanjut Fathi Yakan, karakteristik selanjutnya yang harus dimiliki oleh seorang muslim diantaranya:

  1. Saya harus hidup untuk Islam
  2. Saya harus meyakini kewajiban memperjuangkan Islam
  3. Saya harus memahami misi, karakteristik, dan perlengkapan pergerakan Islam
  4. Saya harus mengetahui jalan perjuangan Islam
  5. Saya harus mengetahui dimensi-dimensi afiliasi saya kepada Pergerakan Islam
  6. Saya harus mengetahui poros-poros perjuangan Islam
  7. Saya harus mengetahui persyaratan baiat dan keanggotaan

Ada yang menarik diakhir penjelasan Fathi Yakan. Ia mengakhiri buku ini dengan wirid Rabithah. Seakan ingin memberikan pesan untuk jangan pernah lupa mendoakan sesama aktifis pergerakan Islam.

“ … akhi hendaklah menghadirkan gambaran wajah ikhwan-ikhwan yang dikenalnya di dalam benaknya, merasakan hubungan spiritual antara dirinya dengan dia serta ikhwan-ikhwan lain yang belum dikenalnya, kemudian mendoakan mereka dengan doa sebagai berikut (doa Rabithah –red)” 

Masih ragu untuk bergabung dalam pergerakan Islam? Masih ingin menjadi seperti kisah Kakek diawal pembahasan kita? Mari terus bergerak bersama dalam bingkai amal jama’i untuk menyambut masa depan cerah dengan Islam.

“Di bumi manapun kakimu berpijak, maka engkau bertanggungjawab akan Islamnya” (Hasan al Banna)

Antara Fatwa Politik dan Fatwa Politis

Fatwa sangat penting kita ketahui khususnya untuk menghadapi berbagai dinamika kehidupan yang terus berkembang sehingga kita mengetahui kedudukannya dalam syariat. Tak terkecuali dalam masalah politik. Akan tetapi dalam masalah politik, permasalahannya sangat sensitif, karena sudut pandangan dan latar belakangnya bisa jadi sangat beragam, dan yang lebih rawan adalah syarat kepentingan. Sehingga dalam batas tertentu, kita sulit membedakan apakah ini fatwa politik ataukah fatwa politis…

Revolusi Arab yang terjadi belakangan ini misalnya dapat kita ambil contohnya. Banyak hal yang harus kita lihat, subtansinya mungkin sama, rakyat tidak puas dengan pemimpinnya yang diktator, tapi masing-masing memiliki cara dan gaya penyelesaian. Ada Maroko yang paling smooth, ada yang lumayan lancar seperti Tunisia, ada yang berdarah-darah namun relatif berhasil menumbangkan sang dictator, seperti Libia dan Yaman. Yang sangat kelam adalah Suriah dan kini Mesir yang hingga kini terus berlanjut dan berdarah. Semoga Allah angkat semua nestapa ini dari saudara-saudara kita di sana.

Setidaknya ada dua point yang ingin saya sampaikan sebagai pandangan pribadi saya;

1.  Sebagaimana saya katakan bahwa substansi Revolusi Arab adalah sama, ketidakpuasan dengan pemerintahan yang ada dan ingin melakukan reformasi pemerintahan.  Apapun kemudian perkembangan yang terjadi, mestinya sikap kita sama. Jangan sampai ada sikap gand. Misalnya ketika Kadafi jatuh tidak bermasalah, tapi ketika Mubarak jatuh, tidak sudi. Atau misalnya, terhadap perjuangan rakyat Suriah, memberikan pembelaan kuat, sedangkan terhadap perjuangan rakyat Mesir yang menolak kudeta militer justeru mengecam. Ketika Mursi berkuasa, berbagai demo menggoyang kekuasaannya tidak ada seruan agar mereka kembali ke rumah-rumahnya, eh kini ketika pendukung Mursi menentang kudeta militer terhadap presiden yang sah, suara nyaring itu baru terdengar. Apakah yang membedakan antara perjuangan rakyat Suriah dengan rakyat Mesir sehingga sikapnya berbeda? Atau apakah bedanya antara penentangan anti Mursi dahulu dengan penentangan pro Mursi sekarang sehingga fatwanya baru keluar sekarang…?

Saya jadi ingat dengan jihad Afghanistan, semasa rakyat Afghanistan berjihad melawan pemerintahan boneka Uni Sovyet, jihad mendapatkan sambutan hangat di negara-negara teluk. Saat itu Bin Ladin di elu-elukan, bahkan kata teman saya orang Saudi, dibuka tempat-tempat khusus untuk pendaftaran jihad ke Afghanistan. Berbondong-bondong para pemuda ke Afghan. Bahkan tokoh jihad Afghan Abdu rabbi rasul Sayyaf diundang untuk menerima medali king Faishal sebagai tokoh yang dianggap menghidupkan jihad, bahkan dia berpidato soal jihad di panggung resmi.  Tapi bagaimana kini fatwa tentang Jihad Afghan setelah yang dilawan adalah pemerintah boneka AS? Teroris!! Bayangkan, dari mujahid ke teroris! Apa bedanya Najibullah yang jadi boneka Uni Sovyet dengan Karzai yang kini jadi boneka AS?

Beginilah rumitnya kalau fatwanya tidak konsisten, sangat kuat gelagat ada pesan kepentingan tertentu. Yang dilihat akhirnya bukan kuatnya dalil, tapi masalah misdaqiyah (kredibilitas) dan istiqlaliyah (independensi) nya.

Sekedar membandingkan dengan kasus serupa di tengah masayarakat, banyak para majikan di negeri Arab yang mendatangkan TKI dari Negara lain tanpa mahram sebagai pembantu rumah tangganya. Sebagian mereka adalah orang yang mengerti dan taat beragama, alasannya adalah kebutuhan. Yang sangat ironis (sekaligus menggelikan) jika musim haji tiba, lalu sang TKW minta ke majikannya untuk berangkat haji, mereka melarangnya dengan alasan tidak ada mahram!!

2. Terkait dengan gerakan penggulingan pemerintahan yang sah dan sikap menasehati penguasa, saya kira memang cukup jelas dalil-dalil normatifnya. Hanya saja, kasusnya di lapangan harus dipahami dengan seksama dan objektif dan mempertimbangkan berbagai hal.

Jika kita lihat revolusi Arab sebagai kasus, atas nama siapakah tuntutan lengsernya penguasa diktator tersebut? Jika kita perhatikan, semuanya bersumber dari rakyat umum yang sudah muak dengan pemerintahan diktator. Bukan karena kelompok tertentu yang mengincar kekuasaan dengan menggulingkannya. IM sendiri yang dianggap sebagai kekuatan politik Islam terbesar, bukanlah inisiator utama gerakan rakyat tersebut. Bahkan pada saat pertama kali gerakan ini muncul IM cukup menjaga diri. Berpuluh-puluh tahun IM dizalimi sejak zaman Nasher, Sadat hingga Mubarak, tidak tercatat mereka mengerahkan massa untuk menggulingkan penguasa, dipenjara, diintimidasi, difitnah, mereka tetap berjalan, membina masyarakat dan menasehati penguasa dengan cara damai. Ketika akhirnya gerakan rakyat tersebut semakin membesar dan hakekatnya tuntutan mereka sama, maka ketika itu IM turun bersama rakyat, terus mengawal keinginan rakyat hingga akhirnya dipercaya menduduki tampuk pemerintahan. Jadi, kalau saya melihat, IM lebih berperan mengontrol jalannya pemerintahan dan mengawal aspirasi masyarakat. Yang perlu diketahui bahwa penentang kudeta Mesir bukan hanya IM saja, bahkan analisanya menunjukkan bahwa lautan manusia yang menentang kudeta Mesir, orang IM hanya sebagian kecil saja…

Masalah pencopotan pemimpin Negara pada masa sekarang sendiri ada juga jalur konstitusionalnya. Apalagi ketika mereka dipilih oleh rakyat dan kemudian rakyatnya secara umum menolaknya. Inipun harus menjadi bahan pertimbangan fiqih politik kontemporer.  Jika kita runut ke belakang misalnya, berdirinya Negara Saudi modern, tak lain setelah berhasil “menggulingkan” beberapa penguasa muslim di beberapa wilayah di Arab Saudi ini, dan setahu saya hal itu tidak diperdebatkan para ulama. Sekali lagi masalah ini memang sangat kasuistik. Tidak dapat diukur dengan fatwa yang sama.

Adapun terkait dengan banyaknya korban yang jatuh, bagi saya ini adalah konsekwensi dari sikap. Tentu kita sangat pedih melihat semua ini. Perjuangan mana sih yang tidak menimbulkan korban? Nonton bola saja bisa menyebabkan jatuh korban! Kalau kita hanya menyoroti banyaknya korban, mungkin dahulu tidak ada perang perjuangan membebaskn penjajah dari tanah air yang menelan lebih banyak korban. Tapi yang lebih pedih dari itu adalah jika empati terhadap mereka terkikis termakan opini yang digiring para diktator bahwa mereka adalah ekstrimis dan teroris, lalu ikut-ikutan jadi mengecam mereka dan menuduh berbuat konyol dan ‘anjing-anjing neraka’.  Sementara ‘tukang jagalnya’ tak tersentuh sama sekali dari lidah dan pena mereka.

Para ulama yang menasehati rakyat Mesir untuk kembali ke rumah-rumahnya sangat layak diapresiasi, apalagi jika tujuannya untuk menyelamatkan darah dan jiwa mereka. Akan tetapi yang patut dipertanyakan juga adalah, apakah nasehat hanya berlaku kepada mereka. Saya melihat, pada masa sekarang ini, nasehat para ulama lebih penting diarahkan kepada para penguasa, baik yang langsung membantai, atau secara tidak langsung memberikan restu dan dukungan. Jadi ‘aneh’ kalau ada dua orang bertikai, kemudian nasehat hanya diarahkan kepada satu pihak, lebih aneh lagi, jika nasehat hanya diarahkan kepada yang dizalimi.

Seandainya para ulama secara massif memberikan nasehat kepada penguasanya, bukan cuma jadi bumper kebijakan-kebijakannya, maka para penguasa pun kan selalu menimbang-nimbang setiap kebijakannya agar selaras dengan prinsip-prinsip agama. Maka, kalau rakyat turun ke jalan memprotes kezaliman penguasanya, hal itu juga harus dilihat sebagai wujud dari mandegnya tugas ulama yang harus menasehati para penguasa. Jadi, dalam hal ini, para ulama pun harus dinasehati terkait sejauh mana peran mereka mengontrol para penguasa. Bukankah Rasulullah saw mengatakan, “Seutamanya jihad adalah menyampaikan yang haq di depan penguasa zalim.”

Tragedi di Mesir ini, tidak perlu terjadi apabila sejak awal Negara-negara Islam yang utama langsung mendukung total pemerintahan Mursi, tapi sayang seribu sayang, sikap mereka sangat jauh dari harapan. Kalau ingin tahu sikap mereka terhadap pemerintahan Mursi, lihat saja media massa resminnya yang tak lain merupakan corong mereka; Lebih jahat dari media barat sekalipun! Ironis, ketika Presiden Mursi terpilih, negeri Arab sangat terkesan ‘ogah-ogahan’ memberi dukungan, namun ketika junta militer berhasil mengkudeta mursi dan membentuk pemerintahan yang notabene dipegang orang sekuler, langsung mendapatkan dukungan. Sebegitu buruknyakah Mursi yang hafiz Quran disbanding Baradei dan Bablawi yang sekuler asli (Bahkan Baradei belakangan mengaku syiah). Sangat sulit bagi saya mendapatkan logikanya. Anehnya, yang getol memberikan dukungan dan pembelaan, bahkan hingga kini, justeru Erdogan, pemimpin muslim Turki yang  bukan Arab dan tidak memiliki ‘gudang’ ulama.

Masalah menyampaikan pesan secara tersembunyi pun saya melihat bukan sesuatu yang mutlak, bolehlah itu dikatakan sebagai prisip dasarnya, akan tetapi kondisi tertentu bisa jadi menyebabkan adanya tuntutan memberikan nasehat terhadap penguasa secara terang-terangan, apalagi jika disampaikan secara bijak dan tegas.  Umar bin Khattab pernah diprotes kebijakannya tentang pembatasan mahar secara terang-terangan. Kisah para salaf dan ulama terpercaya pun tidak sepi dari kisah bagaimana mereka bersikap tegas degan kezaliman penguasa. Misalnya ada ulama yang dikenal sebagai Sulthanul Ulama, yaitu Al-Izz bin Abdussalam, ketika penguasa Damaskuus hendak berkoalisi dengan pasukan salib untuk menyerang penguasa Mesir yang tak lain saudaranya sendiri, dengan lantang dia menentangnya, dia sampaikan hal itu di atas mimbar, akhirnya dia dicopot dari jabatan qadhi dan dipenjara. Ada juga kisah lainnya yang terkenal darinya yang terang terangan menentang kebijakan penguasa.

Bahkan di Saudi saya lihat di media-media sudah mulai lumrah memberitakan  kritikan-kritikan dari berbagai pihak atas kebijakan-kebijakan yang dianggap layak diluruskan. Bahkan belum lama beberapa ulama di Saudi rame-rame mendatangi beberapa departemen, seperti departemen pendidikan dan departemen tenaga kerja atas beberapa kebijakannya yang dianggap sebagai bertentangan dengan syariat. Mereka sih tidak menganggapnya demonstasi, tapi sebagai bentuk nasehat… Bahkan dibentuknya majelis syura Saudi salah satunya untuk mengontrol kebijakan pemerintah. Saya sering baca di media misalnya, majelis syura menyampaikan beberapa kritikannya terhadap kinerja pemerintah… Apakah mereka dapat disebut khawarij karena hal itu.

Intinya masalah politik adalah masalah yang sangat dinamis dan luas dimensinya, mengandalkan dalil-dalil normatif begitu saja tanpa mempertimbangkan kasus perkasus, akan jadi rumit sendiri. Dan jangan sampai pembicaraan siyasah syar’iah kita hanya seputar “Apa hukum demonstrasi” lalu mangambil semua kesimpulan hukum dari sana. Sekali-kali dibahas juga lah “Apa hukum penguasa yang diam atau bahkan mendukung kezaliman.” Atau “Apa hukum penguasa muslim yang berkolaborasi dengan kekuatan kufur untuk memberangus gerakan Islam..” atau “Apa hukum ulama yang diam saja melihat pembantaian terhadap kaum muslimin.” atau semacamnya….

Saya ingin katakan, bahwa tugas kita memang bukan hanya mengajak umat agar tidak menyembah kuburan, tapi juga agar mereka tidak menyembah AS dan sekutu-sekutunya. Kedua-duanya adalah syirik yang harus dibasmi. Inilah Tauhid!!

 

Wallahua’lam

 

Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

Riyadh, Arab Saudi

 

 

Resolution: Back 23

Segala syukur bagi Allah atas kehendak-Nya masih memberikan kesempatan kepada saya untuk terus memperbaiki diri, memperbanyak bekal dalam kehidupan akhirat kelak. Sungguh tidak ingin menjadi sia-sia sisa hidup ini. Menebar banyak kebaikkan dan memberi manfaat kesebanyak makhluk semoga dapat menjadi nafas dan teman dekat yang menghiasi hari-hari. Bukankah  Sang Nabi telah berpesan bahwa salah satu tanda kebaikkan keimanan seseorang adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat baginya? Semoga saya mampu menjawab dengan baik pesan Nabi tersebut.

Semoga Allah menurunkan limpahan rahmat berkali-kali lipat kepada para kerabat atas beragam bentuk doa yang mereka sampaikan kepada saya. Jadikan kami lebih dekat dengan Engkau Ya Rabb, dan sampaikanlah kami kepada bulan suci Mu, Bulan Ramadhan. Aamiin.

Di Hari Perdana dengan Angka 23

Ada banyak hal yang terpikirkan dalam benak saya, tema resolusi apa yang saya angkat untuk memanfaatkan momentum berkurangnya usia. Ini memang bukan sesuatu yang wajib, hanya ingin memanfaatkan peluang dalam memberbaiki diri saja. Menentukan tema resolusi ternyata cukup menyita waktu saya. Hingga baru diwaktu malam saya mampu memutuskannya.

Faktor yang berperan besar dalam penentuan tema resolusi adalah mengaktifkan dan meningkatkan networking serta relasi yang ada di Bogor dan sekitarnya. Sungguh sangat sederhana. Namun, bagi saya cukup penting dikarenakan sebagian besar networking dan relasi yang pernah dibangun telah hilang atau non-aktif selama empat tahun lamanya karena perantauan saya. Atas dasar itulah, pada malam hari itu juga saya mengumpulkan relasi yang terdapat di facebook dan memulai melakukan conversation dengan mereka.

Faktor lainnya yang berperan juga dalam penentuan tema resolusi adalah timbulnya hasrat untuk ‘menebus dosa’ karena tidak mampu berperan aktif dalam dakwah sekolah (SMA). Padahal dimasa SMA lah saya mulai sadar akan nikmatnya berislam, sadar akan indahnya berukhuwah, dan sadar akan tanggung jawab berdakwah. Oleh karenanya, conversation yang saya lakukan pada malam hari tersebut terfokus kepada kerabat yang memiliki perasaan serupa dengan saya di masa SMA nya.

Adalah berkontribusi dan berkarya dimana pun kita berada menjadi mind set yang saya bawa kepada para kerabat. Sejauh apa pun jaraknya, dengan kecanggihan teknologi informasi saat ini segalanya terasa lebih dekat. Ingatlah saya akan petuah bapak Hermawan Kertajaya, pakar marketing dunia, bahwa dunia kini telah menjadi datar. Mind set  inilah yang saya coba tularkan kepada kerabat yang lain: Mengajak untuk turut serta berkontribusi dan berkarya sebagai bentuk kepedulian kepada perkembangan dakwah sekolah (SMA).

Mind set tersebut membuat conversation yang saya mulai tidak sekedar menanyakan kabar. Dirangkai sedemikian rupa untuk menggugah perasaan para kerabat. Menyadarkan, dan mengajak berkontribusi dan berkarya untuk perkembangan dakwah sekolah (SMA) mereka. Bagaimana caranya? Cukup dengan menghadirkan kembali memori indah selama dalam dekapan dakwah sekolah (SMA) melalui tulisan. Setiap orang pasti punya kesan tersendiri. Untuk para penerus, agar tidak lupa akan sejarah organisasi dakwahnya.

Ya Rabb semoga ikhtiar ini dapat memperoleh hasil yang baik serta ridho dari-Mu. Di angka 23 ini, atas ijin-Mu, saya kembali ke SMAN 3 Bogor. Back 23 (baca: Back To Three).🙂