Rakyat Indonesia Rindu Engkau Berpidato Seperti Itu Sebagai Presiden


Saya baru tersadar bahwa bapak Susilo Bambang Yudhoyono memiliki kemampuan berpidato dengan sangat baik. Aura dan semangatnya dapat sampai diterima oleh para pendengar. Sayang seribu sayang, pada pidato tersebut, beliau bukan sebagai Presiden RI melainkan Dewan Pembina Partai Demokrat yang membuka Rakornas partainya pada tanggal 23 Juli 2011 kemarin di Sentul, Bogor.

“Saya akan berdiri didepan untuk menghadapi masalah ini”

Kalimat tersebut benar-benar berenergi. Terasa aura dan semangatnya kepada para pendengar. Terlukiskan seorang bapak yang berada digaris depan untuk menyelesaikan badai permasalahan rumah tangganya. Sungguh sangat luar biasa. Namun, saya lebih merindukan kalimat dan energi itu keluar ketika satu per satu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) disiksa dan hilang nyawanya. Membayangkan seorang bapak bangsa, orang nomor satu di Indonesia berdiri di barisan terdepan untuk menyelesaikan permasalahan TKI walau ternyata lebih terpilih air mata daripada kalimat heroik tersebut.

“Nila setitik rusak sebelanga.” dan “Hanya karena sebagian kecil kader, jutaan kader dirugikan.”

Dua kalimat tersebut disampaikan dengan kuat dan benar-benar tegas. Sangat terlihat keinginan seorang bapak yang berusaha menjaga martabat rumah tangganya. Namun saya rindu orang yang dipercaya memimpin Indonesia untuk yang kedua kalinya ini mengatakan kalimat tersebut sebagai seorang Presiden dengan mengganti kata kader menjadi rakyat Indonesia.

“Hanya karena sebagian rakyat Indonesia, jutaan rakyat Indonesia dirugikan.”

Begitulah kiranya kalimat yang saya rindukan. Kalimat yang memiliki kekuatan dan ketegasan yang sama yang ditujukan kepada para koruptor, dan kepada mafia-mafia elit di negeri ini. Saya yakin tidak hanya jutaan bahkan dapat mencapai ratusan rakyat Indonesia yang tenang dan tentram hatinya lantaran presidennya tegas dan lugas memerangi korupsi.

“Saudara Nazaruddin kembalilah ke Indonesia”

Kalimat tersebut begitu lembut dituturkan. Bagaikan seorang bapak yang memohon putranya kembali ke rumah. Namun, sekali lagi, saya merindukan kalimat tersebut terucap oleh seorang Presiden bukan seorang Dewan Pembina Partai. Seorang Presiden yang menyebutkan satu per satu nama-nama anaknya (baca: rakyat Indonesia) yang diduga korupsi yang kini tinggal bebas di luar negeri.

“Salahnya besar hukuman berat, salahnya sedikit hukuman kecil”

Kalimat yang membuat dahi ini berkerut dan bertanya. Benarkah? Lalu apakah itu artinya maling ayam yang dilakukan oleh dua anak berusia 13 tahun, dibandingkan orang yang korupsi ratusan bahkan miliaran juta memiliki hukuman yang lebih rendah? Tapi mengapa ancaman hukuman sampai 3,5 tahun penjara, sedangkan koruptor pun ada yang menjalankan hukuman penjara dengan waktu yang sama seperti pencuri ayam tersebut. Kalimat diatas tadi benar-benar mebuat kepala saya geleng-geleng dan mencoba berucap aamin sebagai tanda doa.

“Saya mencintai kader Partai Demokrat sebagaimana saya mencintai rakyat Indonesia”

Sontak mendengar kalimat ini air mata menetes. Timbul rasa cemburu yang sangat dalam, terasa terluka hati ini akan kalimat tersebut. Saya sebagai rakyat Indonesia tidak pernah mendapat pidato yang begitu menggebu dan penuh semangat dari bapak rakyat Indonesia, Presiden, sedangkan anggota partainya mendapatinya. Saya sebagai rakyat Indonesia lebih sering mendengar keluh kesah dari kepala negara ini daripada kalimat optimisme penuh ketegasan dan keberanian, sedangkan anggota partainya mendapatkannya. Sungguh saya sangat cemburu mendengar kalimat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s