HAMKA Sang Pluralis?


Kenal kah kita dengan Buya Hamka?

Taukah kita bahwa nama Hamka itu merupakan singkatan dari nama sebenarnya?

Ya, adalah Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah nama lengkap Hamka. Hamka tidak hanya sekedar ulama, ia juga merupakan seorang pendidik, akademisi, politisi, filsuf, sastrawan, sejarawan, penulis, dan juga jurnalis. Kualitas pemikiran Hamka pun tidak hanya dirasakan oleh kalangan pribumi, namun diakui hingga dunia internasional. Ia menerima predikat kehormatan Doktor Honorus Clausa dari Universitas Al Azhar, Mesir. Karya monumental Hamka pun diberi nama Tafsir Al Azhar oleh masyarakat seletah penghargaan dari universitas tertua tersebut. Salah satu episode hidupnya yang fenomenal adalah ketika ia menjadi ketua MUI yang pertama. Padasaat itu, MUI dibawah kepemimpinan Hamka mengeluarkan Fatwa MUI yang mengharamkan umat Islam untuk mengikuti perayaan natal.

Kualitas Hamka yang begitu tersohor, kini mulai terdengar lagi dengan embel-embel pendukung pluralisme. Setidaknya terdapat tiga peristiwa yang melahirkan klaim pluralism terhadap Hamka, baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang dimaksud dengan klaim pluralism secara langsung adalah yang secara terang-terangan menyebut Buya hamka seorang pluralis atau yang memiliki pemikiran yang sejalan dengan pluralism. Dan ada pula klaim yang secara tidak langsung, yaitu dengan memaparkan pemikiran-pemikiran Buya Hamka dalam susunan yang sedemikian rupa sehingga mengesankan keselarasan dengan ajaran pluralism, atau memberi kesan diantara pemikiran-pemikiran Hamka ada yang sejalan dengan prinsip-prinsip pluralisme.

Artikel yang berjudul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”, terbit pada tanggal 21 Nopember 2006 di Republika, sebagian besar berisi kutipan-kutipan dari masterpiece Hamka, Tafsir Al-Azhar. Artikel yang ditulis oleh Syafii Maarif ini dilatarbelakangi oleh seorang jenderal polisi yang bertugas di Poso yang merasa tafsir ayat 62 Al-Baqarah merupakan solusi untuk konflik di Poso. Berikut kutipan penulis yang diambil dari Tafsir Al Azhar:

“Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapatkan ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal salih yang telah mereka kerjakan itu. ‘Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita’ (ujung ayat 62)”

Syafii pun mengutip pendapat Hamka:
“kalau dikatakan bahwa ayat ini (Al Baqarah ayat 62) di nasikhkan oleh ayat 85 surah Al Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatic; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan syurga it hanya dijamin untuk kita saja. Tetapi kalau kita fahamkan bahwa diantara kedua ayat ini adalah lengkap melengkapi maka pintu da’wah senantiasa terbuka, dan kedudukan Islam tetap menjadi agma fitrah, tetapi dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia”

Syafii menutup uraiannya dengan memuji Hamka sebagai seorang yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan menjaga pendirian masing-masing. Pada artikel ini Syafii Maarif hanya mengambil kutipan-kutipan Tafsir Al-Azhar yang memberi kesan bahwa Hamka memberikan penafsiran pluralis pada ayat itu.

Begitu pun yang dilakukan oleh Ayang Utriza dalam artikelnya yang berjudul “Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah”. Di dalam artikel tersebut, Ayang menyimpulkan:

“Ini berarti bahwa walaupun saeorang mengaku beragama Islam, yang hanya bermodalkan dua kalimat syahadat, tetapi tidak pernah menjalankan rukun Islam, maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah, yaitu  surga. Sebaliknya jika ada non-Muslim yang  taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya, walaupun tidak mengucap dua kalimat syahadat, maka dia akan mendapat ganjaran dari Allah: surga.”

Dari dua artikel tersebut, menarik untuk dipahami lebih dalam apakah memang demikian yang Hamka maksudkan? Untuk lebih lengkapnya, ini terjemah Hamka dalam Tafsir  Al-Azhar untuk ayat 62 Al Baqarah:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran di sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka, dan tidaklah mereka akan berduka cita” (QS 2:62)

Dibaca sekilas, maka terkesan orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabi’in bisa mendapatkan keselamatan di sisi Allah. Berikut tafsir yang disampaikan oleh Buya Hamka:

“Dan kedatangan Islam bukanlah sebagai musuh dari yahudi dan tidak dari Nasrani, melainkan ajaran yang belum selesai. Maka orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak kedatangan Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak wahyu yang dia bawa. Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri belian telah mereka terima. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, nisccaya nerakalah tempat mereka kelak”

Dari penjelasan tafsir diatas, menjadi jelas bahwa ketaatan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in harus dibuktikan dengan ketaatan yang sebenar-benarnya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kasus dua artikel ini memberikan pelajaran bahwa dalam memahami ayat perlu dipahami pula tentang asbabun nuzulnya. Jangan sampai seperti Syafii Maaraif yang keliru dalam menempatkan kasus Poso dengan ayat yang dikutipnya. Pelajaran berikutnya adalah perlunya kita membaca habis bahasan ayat tersebut dalam penafsirannya hingga tidak terjadi seperti Syafii Maarif dan Ayang Utriza yang luput menampilkan penjelasan akhir yang itu menjadi penjelasan utamanya dalam tafsir ayat yang mereka kutip dalam artikelnya.

Waallahu alam…

Referensi:

Tafsir Al Azhar

Buya Hamka; antara kelurusan akidah dan pluralism. Akmal Sjafril.

*tulisan ini menjadi materi dalam K-Lite (Kajian Literasi) di Serambi Selatan Masjid Manarul Ilmi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s