Aksi Borong Pesawat, Kemajuan Semu!


Membaca salah satu berita di surat kabar nasional membuat mata ini terbelalak. Tidak lain dan tidak bukan, ini tentang aksi borong pesawat dari beberapa maskapai penerbangan untuk beroperasi di Indonesia. Aksi borong 234 pesawat Airbus oleh maskapai Lion Air ini, bahkan berhasil menarik perhatian presiden Prancis hingga membuat sang presiden turut hadir dalam proses borong pesawat ini. Selain Lion Air, Citilink dan Air Asia melakukan hal yang serupa. 25 pesawat Airbus A320 dipesan Citilink, dan 475 pesawat telah dipesan pula oleh Air Asia untuk beroperasi di Indonesia. Aksi borong pesawat ini menjadi bukti bahwa begitu menjanjikannya bisnis industri strategis ini di pasar domestik Indonesia.

Mengetahui aksi borong pesawat ini, saya sebagai konsumen merasa senang karena jumlah penerbangan akan semakin banyak dan pilihan waktu penerbangan pun semakin beragam. Namun, disisi lain merasa miris. Mengapa? Tidakkah kita ingat, bahwa pada tanggal 10 Agustus 1995, semua mata dunia tertuju pada Indonesia? Mereka menyaksikan penerbangan perdana salah satu pesawat tercanggih di dunia yang diciptakan 100% oleh Warga Negara Indonesia. Sekali lagi bukan pesawat biasa, melainkan pesawat terbaik di dunia pada kelasnya. Ya, pesawat terbaik ini adalah N-250. Padasaat itu, tahun 1995, dijajarkan pesawat komersial, N-250 merupakan pesawat ketiga yang menerapkan teknologi fly by wire setelah Airbus A-340 dan Boeing 767 (BJ Habibie, 2010). Bila Airbus A-340 dan Boeing 767 merupakan pesawat penumpang berkapasistas besar, maka N-250 merupakan pesawat komuter pertama yang menggunakan teknologi fly by wire (seluruh gerakannya dikendalikan secara komputerisasi). Dengan segala kecanggihannya, sudah sewajarnya Indonesia, padasaat itu, menjadi sangat diperhitungkan keberadaannya dalam industri penerbangan. Dan, tahukah kita, bahwa aksi borong pesawat ini yang mengindikasikan begitu menjanjikannya pasar domestik Indonesia telah diperkirakan jauh sebelumnya. Diperkirakan 27% dari Pasar Asia Pasfik atau 5% dari Pasar Dunia pesawat komuter adalah potensi Pasar Domestik Indonesia. Mengingat besarnya jumlah kebutuhan itu dan lapangan kerja yang dapat disediakan, tentu saja lebih menguntungkan kalau memproduksi pesawat sendiri, (BJ Habibie, 2010). Kalimat itu menjadi salah satu hal yang meyakinkan bapak B.J. Habibie untuk mengembangkan industri strategis, terutama industri penerbangan di Indonesia. “Saya perhitungkan antara tahun 2000-2020, dunia membutuhkan sekitar 8000 unit pesawat komuter dan sekitar 45% adalah seperti N-250 untuk menggantikan pasawat yang sudah ada dan menambah armada baru,” terang Presiden RI ketiga ini. Perhatikan dengan jeli kalimat yang disampaikan pak Habibie diatas! Yang beliau lakukan adalah bukan prediksi Pasar domestik Indonesia melainkan pak Habibie berbicara kebutuhan Pasar Dunia!

Begitulah kondisi bangsa Indonesia tahun 1990an. Saat krisis moneter tiba, paksaan serta desakan IMF datang untuk menghentikan program pengembangan industri strategis terutama industri penerbangan dengan dalih menyelamatkan perekonomian Indonesia. Kini kita menyaksikan sendiri, pasar domestik Indonesia sungguh menjanjikan. Dengan adanya aksi borong pesawat yang dilakukan beberapa maskapai seperti yang telah dijelaskan diatas, membuat peluang dan frekuensi terhubungnya satu pulau dengan pulau lainnya semakin tinggi. Sektor Pariwisata jelas akan diuntungkan, namun alangkah lebih indah bila dibarengi dengan keuntungan sektor industri penerbangan punya bangsa sendiri. Harapan Itu Masih Ada.

 

*sumber: Habibie, B.J. 2010. “Habibie & Ainun”. PT. THC Mandiri, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s