Perubahan…


Ingatkah kita tentang cerita Seorang Kakek dan Impiannya?

Kakek yang mengatakan bahwa saat masa mudanya ia bercita-cita mengubah dunia, yang kemudian dengan segala daya upayanya ia merasa dunia tidak berubah lebih baik bahkan malah menjadi lebih buruk. Ia tersadar, mungkin terlalu tinggi impiannya, lalu diubahnyalah impiannya itu menjadi mengubah Indonesia, Negerinya. Ia merasa sanggup jika hanya mengubah satu Negara saja. Jauh lebih kecil dibanding mengubah dunia seisinya. Optimislah ia. Dan dengan segala daya upayanya ia kembali merasa tidak terjadi perubahan kearah yang lebih baik di negaranya itu. Apakah impian untuk mengubah Negara yang dicintainya ini masih terlalu tinggi? Ia mencoba merenungi apa yang salah dari yang ia lakukan sejak muda. Ia merasa impiannya mulia, bukan impian yang hanya untuk dirinya. Lalu mengapa hingga usia dirinya yang sudah tidak muda lagi ini impiannya belum terwujud. Di ujung perenungannya, ia bertekad, setidak-tidaknya ia ingin mengubah kota tempat tinggalnya menjadi jauh lebih baik. Namun apa daya, geraknya tidak segesit dulu, staminanya tidak semembara dulu, pikirannya tidak setajam dulu. Mengubah kotanya pun kini hanya tinggal angan-angan.

Sobat, sadarkah kita bahwa sudah begitu banyak orang yang menjadi seperti Kakek dalam cerita diatas? Ia larut dalam impiannya dan berujung pada putus asa. Apa yang salah? Tidak, bukanlah impiannya yang terlalu tinggi. Itu bukan suatu kesalahan. Yang salah adalah prioritas aksi yang dilakukan untuk mencapai impian tersebut.  Ya, tahapan-tahapan jalan untuk meraih suat impian. Fathi Yakan dalam buku Komitmen Muslim Sejati telah menerangkan dengan ringkas lagi padat bagaimana kita sebagai muslim bersikap. Hingga dalam bukunya tersebut, Fathi Yakan menjelaskannya dalam dua bingkai besar: Apa artinya saya mengaku muslim? Dan Apa artinya saya berafiliasi kepada pergerakan Islam?

Sobat, tidaklah mungkin lahir orang-orang besar dari mereka yang belum selesai dengan urusannya sendiri. Bagaimana mungkin mengurusi orang lain jika mengurus dirinya sendiri saja belum sanggup. Dan memulai dari mengurus akidah kita adalah langkah yang tepat. Mengapa akidah? Karena akidah inilah yang menjadi dasar atau pondasi dari setiap aksi kita dalam hidup. Mengurus akidah sama saja dengan mengislamkan akidah yang menurut Fathi Yakan memiliki konsekuensi sebagai berikut:

  1. Saya harus meyakini bahwa pencipta alam ini adalah Allah swt.
  2. Saya harus mengimani bahwa Allah swt tidak menciptakan alam semesta ini secara sia-sia. Karena kesia-siaan tidak selaras dengan sifat Allah swt Yang Maha Sempurna.
  3. Saya harus meyakini bahwa Allah swt telah mengutus rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk mengenalkan manusia kepada pengetahuan tentang Dia. Rasul terakhir adalah Muhammad saw dengan kitab Al Qur’an.
  4. Saya harus meyakini bahwa tujuan keberadaan manusia ini adalah mengenal Allah swt, menaati-Nya dan beribadah kepada-Nya.
  5. Saya harus meyakini bahwa balasan bagi orang mukmin yang taat adalah surga, sedangkan balasan bagi orang kafir yang bermaksiat adalah neraka.
  6. Saya harus meyakini bahwa segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan.

Jika akidah kita sudah diislamkan, maka jangan ragu untuk mengislamkan yang lainnya. Ibadah kita, akhlak kita, keluarga dan rumah tangga kita. Bila sudah masuk pada fase mengislamkan keluarga dan rumah tangga, bearti kita sudah mulai beranjak pada kelompok sosial terkecil dimasyarakat dan mulai siap untuk melakukan perubahan di level kelompok sosial yang lebih tinggi. That’s sounds great! Eiits, tapi sabar dulu, ada satu bekal lagi yang perlu kita punyai yakni mampu mengalahkan hawa nafsu. Kenapa hawa nafsu? Karena hawa nafsu ini selalu menempel dengan manusia. Tidak mungkin tidak. Hanya tinggal bagaimana setiap insan ini mengatur, mengalahkan atau menundukkan hawa nafsunya. Karena bukanlah hawa nafsu sebagai raja melainkan iman dalam hati yang menjadi pemimpin dalam raga ini.

Sob, ada yang perlu kita tau dan disadari bersama bahwa tidak ada masa depan selain untuk Islam. Ya benar, untuk Islam. Bukan agama lain atau bahkan Negara lain. Segala sistem buatan manusia didunia ini alih-alih ia menjauhkan manusia dari sistem Islam, ia akan menjadi pintu sistem Islam itu dikenal oleh masyarakat luas. Seberapa besar daya upaya menjauhkan manusia dari sistem Islam, sebesar itu pula sistem Islam semakin dekat dan dikenal oleh masyarakat luas. Ya, karena agama ini fitrah. Yakini dan imanilah ini.

Mari kita beranjak untuk melakukan perubahan dengan skala yang lebih luas, setelah kita melakukan perubahan pada diri, keluarga dan rumah tangga sendiri. Masih ingat cerita tentang Kakek diatas? Jangan sampai ya kita jadi seperti itu. Nah, kalau dalam perubahan diri, keluarga, dan rumah tangga kita jadi aktor utama dalam perubahan, maka tidak berlaku dalam perubahan masyarakat atau perubahan dengan skala besar lainnya. Perubahan masyarakat tidak membutuhkan Super Hero, mereka butuh Super Team. Jika kalian masih bergerak sendiri dalam melakukan perubahan masyarakat, segeralah beranjak untuk membentuk tim dalam aksi perubahan kalian.

Dalam konteks yang lebih luas, setelah kita yakin bahwa masa depan untuk Islam, mari berjuang dan melakukan perubahan dengan nafas Islam. Belajar, berbaur, dan berjuang bersama dengan aktifis islam / aktifis perubahan lainnya dalam suatu naungan pergerakan Islam. Inilah pesan yang disampaikan Fathi Yakan dalam buku Komitmen Muslim Sejati. Setelah membahas ‘Apa artinya saya mengaku Muslim?’, Fathi Yakan membahas tentang pergerakan Islam: Apa artinya Saya berafiliasi kepada Pergerakan Islam? Berafiliasi dalam pergerakan Islam bukanlah suatu pilihan, melainkan kewajiban. Dalam buku Komitmen Muslim Sejati, Fathi Yakan menjelaskan:

“… pengakuan sebagai muslim merupakan dasar, sedangkan pengakuan sebagai aktifis pergerakan adalah bagian yang tak terpisahkan dari ketulusan dalam pengakuan seseorang sebagai penganut agama ini.”

Dalam penjelasannya, Fathi Yakan menyandingkan pengakuan sebagai aktifis pergerakan dengan ketulusan seseorang dalam berislam. Penjelasan ini memberikan arti juga bahwa belumlah total seseorang berislam jika tidak berafiliasi terhadap pergerakan Islam. Subhanallah. Maka, lanjut Fathi Yakan, karakteristik selanjutnya yang harus dimiliki oleh seorang muslim diantaranya:

  1. Saya harus hidup untuk Islam
  2. Saya harus meyakini kewajiban memperjuangkan Islam
  3. Saya harus memahami misi, karakteristik, dan perlengkapan pergerakan Islam
  4. Saya harus mengetahui jalan perjuangan Islam
  5. Saya harus mengetahui dimensi-dimensi afiliasi saya kepada Pergerakan Islam
  6. Saya harus mengetahui poros-poros perjuangan Islam
  7. Saya harus mengetahui persyaratan baiat dan keanggotaan

Ada yang menarik diakhir penjelasan Fathi Yakan. Ia mengakhiri buku ini dengan wirid Rabithah. Seakan ingin memberikan pesan untuk jangan pernah lupa mendoakan sesama aktifis pergerakan Islam.

“ … akhi hendaklah menghadirkan gambaran wajah ikhwan-ikhwan yang dikenalnya di dalam benaknya, merasakan hubungan spiritual antara dirinya dengan dia serta ikhwan-ikhwan lain yang belum dikenalnya, kemudian mendoakan mereka dengan doa sebagai berikut (doa Rabithah –red)” 

Masih ragu untuk bergabung dalam pergerakan Islam? Masih ingin menjadi seperti kisah Kakek diawal pembahasan kita? Mari terus bergerak bersama dalam bingkai amal jama’i untuk menyambut masa depan cerah dengan Islam.

“Di bumi manapun kakimu berpijak, maka engkau bertanggungjawab akan Islamnya” (Hasan al Banna)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s